wiseguy
by wiseguy

Ia bersumpah tak akan main film karena tak berbakat, tak enak dilihat, tak bisa akting. Demi Wiji Thukul, ia akhirnya bertekuk lutut. Berakting membuat kesenimanan Melanie Subono menjadi lengkap. Sayangnya, ini debut sekaligus film terakhirnya!

Negeri ini tampaknya punya sedikit seniman lengkap, selengkap yang dimiliki Melanie Subono. Ia bernyanyi, menulis buku, menjadi presenter, aktivis lingkungan dan sosial, juga seorang digital enthusiast. Ia kemudian berperan sebagai Ida, isteri Martin Siregar (yang diperankan Eduwart Boang Manalu), aktivis dan sahabat Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) saat pelariannya di Pontianak dalam film Istirahatlah kata-kataFilm besutan sutradara Yosep Anggi Noen ini seperti membuat kesenimanannya menjadi lengkap.

Melanie memang bukan diva pop, yang melantunkan kecengengan cinta dengan konser besar dan penonton berbaju rapi. Dari lima album musiknya yang pernah rilis secara indie, semua beraliran rock dan rock ‘n roll; menyerukan kebebasan, persahabatan, identitas diri, cinta lingkungan. Predikat “Best Solo Female Rock Singer 2008” pernah disabetnya di ajang Anugerah Musik Indonesia Award. Dalam beberapa tahun terakhir, ia menyanyi sebagai bentuk musikalisasi puisi-puisi protes karya penyair Wiji Thukul, berkolaborasi dengan Fajar Merah, putera sang penyair yang juga musisi. Ia juga aktif dalam kegiatan kampanye pelestarian hutan dan fauna, serta duta bagi buruh migran Indonesia di 8 negara.

Dua buku yang pernah ditulisnya juga bukan novel picisan sekretaris yang jatuh cinta pada bosnya, tapi Ouch!!! (2007) dan Liaison Office Forever. Yakni, kisah pengalamannya bekerja sebagai liaison officer, yang membuatnya marah, dongkol, geli bahkan bersyukur pada saat bersamaan melihat kelakuan aneh selebriti dunia macam Mariah Carey, Alanis Morisette, kelompok Westlife, The Cranberries, serta banyak lagi, saat mereka berkonser di Indonesia.

Lahir di Hamburg, Jerman pada 20 Oktober 1976, Melanie adalah puteri Adrie Subono, promotor musik yang biasa menghadirkan para musisi dunia di Indonesia. Dari semua kegiatannya, pada satu masa, Melanie berkali-kali mengungkapkan ia tak akan bermain film karena merasa tak berbakat akting dan tak bagus di depan kamera. Ia bahkan menolak peran apa pun di Rudy Habibie besutan Hanung Bramantyo, biopik Presiden RI ke-3. Nenek Melanie, ibu dari ayahnya, Titie Sri Sulaksmi, adalah kakak kandung B.J. Habibie.

Tapi, Melanie tak kuasa melanggar sumpahnya sendiri. “Saya mungkin pertama-tama harus tarik ucapan ‘Gue nggak bakal main film’” begitu katanya di depan media, saat ia akhirnya bertekuk lutut diminta keluarga Wiji Thukul untuk tampil di film yang diproduseri Yulia Evina Bhara itu.

INI ADALAH PESAN, INI ADALAH GERAKAN, INI ADALAH SEJARAH!

Diwawancari via email, inilah Melanie Subono tentang Istirahatlah kata-kata yang kini ditayangkan secara streaming dan eksklusif hanya di CatchPlay.

Istirahatlah jadi debut Anda. Mengapa akhirnya tak bisa menolak kali ini?

Saya tak punya interest dengan film dan merasa tidak bisa acting. Saya gak punya kesabaran menunggu di lokasi shooting seperti sering saya dengar dari teman-teman. To be honest …saya jarang lihat film Indonesia yang “penting” baik dari cerita dll-nya. Gitu-gitu aja. Yang sering ditawarkan ke saya ya seperti itu. Sampai datang Istirahatlah kata-kata ini. Yang tiba ke saya bukan tawaran, tapi pemberitahuan dari keluarga Wiji Thukul sendiri. Sejenis perintah, “Kamu main di film ini, oke?” bukan lagi nanya apakah saya mau atau tidak.

Istirahatlah bukan (sekadar) film. Tapi ini adalah pesan. Ini adalah gerakan. Ini adalah sejarah. Ini bukan film yang habis kelar cuma akan jadi DVD atau film di pesawat, tapi ini nyata. Untuk menjadi diskusi. Untuk menjadi kekuatan. 

Persiapan macam apa untuk memerani karakter Ida?

Tidak ada persiapan apa-apa. Orang yang saya perani masih ada, sehat wal afiat. Dari situ saya tahu beliau orang seperti apa. Mas Anggi maupun Mbak Yulia tak pernah meminta saya merubah diri saya jadi orang lain. Mereka hanya memberi tahu Ida ini seperti begini, coba kamu ngomong, coba mengerti dia; sisanya terapkan sendiri di diri kamu. Itu yang membuat saya rileks dan senang berada di sini.

Pengalaman menarik selama produksi? Apalagi ini debut Anda?

Bukan cuma disebut debut, tapi mungkin satu-satunya film saya ha ha ha …..

Menarik, saya ternyata tidak merusak film itu dengan akting saya yang seadanya. No. Ternyata ada dunia film yang beda dari yang selama ini saya dengar sebagai dunia komersial. Saya melihat begitu banyak orang bekerja bukan karna uang, tapi karena ide, visi, rasa dan kehausan yang sama akan sosok Wiji Thukul dan kebenaran. Itu hal yang jarang dan mahal di Indonesia, terutama di industri ini.

Selama di Pontianak, apa yang terpikir di benak Anda tentang proyek ini?

Sisi lain Wiji Thukul. Duduk di sana menanti giliran shooting membuat saya mendengar tiap kata dan dialog. Ada sisi lain seorang pejuang, yang hanya terlihat berani di depan orang banyak. Yaitu kesepian. Ketakutan. Ketidakpastian di kota yang jauh banget dari rumah dan keluarga. Ada sisi lain dari perjuangan.

INI KEAJAIBAN. FILM INI AKAN ABADI…

Setelah dirilis dan hanya diputar di sedikit bioskop, apa pendapat Anda?

Ini keajaiban. Film tentang seseorang yang namanya saja sering tabu disebut kok bisa diputar di bioskop. Kedua, anak muda, penikmat seni, masyarakat, sudah mulai terbuka pikirannya atau mungkin haus karya seperti ini. Mungkin selama ini mereka tidak tahu, ya, karena memang jarang disuguhkan film seperti ini. Ternyata penikmatnya masih sangat banyak.

Istirahatlah memenangi sejumlah kategori di banyak festival, dan Anda jadi bagian darinya. Kesan Anda?

Ini film memang layak mendapatkan itu. Saya hanya part kecil, bukan saya, tapi mereka yang ada di tim berhak mendapat semua penghargaan itu. Bagaimana lamanya film ini direncanakan. Bagaimana mereka tidak berpikir uang dan tetek-bengeknya, dan bagaimana ini tercipta dari hati. Film ini memang layak!

Harapan Anda untuk penonton Indonesia, kini dan nanti?

Film ini adalah peringatan. Peringatan yang baru lahir. Ini tidak akan selesai begitu saja. Film ini akan ada. Akan menjadi diskusi. Akan menciptakan lahirnya puisi-puisi baru. Akan menjadi colekan bagi pemerintah untuk kasus yang ngambang begitu saja.

Film ini tidak selesai di sini. Jalannya masih sangat sangat sangat panjang. Dan film ini abadi….