Vincent Vega
by Vincent Vega

Lika-liku kehidupan orang kaya, mengandung banyak gagasan menarik untuk ditertawakan. Apalagi kisah tentang mereka yang kaya mendadak alias Orang Kaya Baru, seperti judul film terbaru Ody C. Harahap.

Menjadi orang kaya niscaya adalah cita-cita setiap orang. Hari gini siapa sih yang mau hidup susah? Kerja keras, banting tulang seumur hidup hidupnya begitu-begitu saja. Tak heran jika film tentang kehidupan orang kaya atau tips menjadi kaya amat digandrungi penonton. Salah satunya seperti film anyar karya sutradara Ody C. Harahap yang bertajuk Orang Kaya Baru (OKB). Kali-kali aja usai nonton bisa belajar bagaimana caranya pindah kelas sosial dan bukan lagi kasta sudra.

Proyek buatan Screenplay Films bareng Legacy Pictures ini dikemas dengan bumbu komedi, genre yang banyak digarap Ody selama ini. Skenarionya dari sineas yang terkenal jenaka Joko Anwar. Ternyata bukan kali ini saja Joko menulis skenario untuk film yang bukan dia sutradarai. Sebelumnya pernah ada Stip & Pensil karya sutradara Ardy Octaviand, atau Fiksi karya Mouly Surya.

Stip & Pensil

Fenomena yang disodorkan dalam OKB jika ditelusuri lebih jauh punya kemiripan dengan film Crazy Rich Asians karya sutradara Jon M. Chu. Bagaimana sih rasanya hidup dengan harta berlimpah ruah? Apa-apa serba mudah, mau makan apa tinggal bilang, nanti ada yang mengantarkan. Beli ini itu bukan perkara sulit.

Crazy Rich Asians

Namun kesamaan mendasar dari keduanya adalah hikmah sebanyak apapun harta yang kita miliki, masih ada hal yang lebih penting dari itu, yakni kehangatan keluarga. Mungkin tagline film laris Keluarga Cemara bisa jadi pegangan: harta yang paling berharga adalah keluarga. Sekaya apapun seseorang jangan sampai melupakan ikatan dalam keluarga. Sesederhana itu sih pesannya.

Selain menyimpan kesamaan, banyak juga perbedaan antara OKB dan CRA ini. Nah, kira-kira apa saja ya?

 

Sumber cerita

OKB merupakan ide orisinil dari penulis skenario Joko Anwar dan dieksekusi oleh sutradara Ody C Harahap. Sementara CRA jauh lebih dikenal, karena sumbernya dari novel jenaka karya penulis Kevin Kwan. Skenarionya dibuat oleh Peter Chiarelli dan Adele Lim, kemudian dieksekusi oleh sutradara Jon M. Chu.

 

Generasi

OKB bercerita tentang dua generasi: Ibu (Cut Mini) dan Ayah (Lukman Sardi) serta anak mereka Tika (Raline Shah), Duta (Derby Romero) dan Dodi (Fatih Unru). Lengkap dengan polahnya masing-masing. Sedangkan di CRA mengupas tentang tiga generasi. Mulai dari sang pangeran, calon pewaris tahta keluarga Nick Young (Henry Golding), Ibu (Michelle Yeoh), dan neneknya (Lisa Lu).

 

Estimasi Aset

Tentang taksiran asset, antara OKB dan CRA berbeda jauh. Dalam film OKB diperlihatkan seorang pengacara (diperankan oleh Verdy Solaiman) datang ke rumah keluarga almarhum Bapak. Dia mendapatkan amanat dari kliennya tentang warisan untuk keluarga yang ditinggalkan. Kalau ditaksir masih dalam kisaran puluhan miliar Rupiah. Untuk jumlah sebesar itu mereka tidak memerlukan manajemen keuangan. Namanya durian runtuh, mereka hanya berpikir bagaimana cara menghabiskannya.

Sedangkan CRA, estimasinya jauh di atas itu. Rumah keluarga Nick Young bak istana, perlu banyak pembantu untuk mengurus properti sebesar itu. Kemudian dari sisi keamanan pun sudah diperhitungkan. Tengok saja ketika Rachel Chu (Constance Wu) bersama sahabatnya Peik Lin Goh (Awkwafina) datang menghadiri pesta di rumah Nick dibuat terheran-heran. Maklum, tempat itu tidak terlacak oleh GPS. Belum lagi bisnis keluarga dinasti Young di berbagai sektor. Angkanya belum terdeteksi, yang jelas lebih dari ratusan juta USD.

Sub Genre Komedi yang Berbeda

OKB murni film komedi. Ceritanya sekadar lelucon tentang culture shock yang dialami sebuah keluarga. Betapa naif, tepatnya norak, saat mereka mendapat kabar punya banyak harta dan otomatis naik kelas sosialnya. Sementara CRA lebih kepada komedi romantis. Kalaupun muncul sikap norak, itu datang bukan dari tokoh utamanya. Melainkan dari kalangan yang berusaha masuk untuk ikutan dalam pergaulan level jetset.