wiseguy
by wiseguy

Detroit dirilis, luka lama isu rasialisme bak terkuak kembali. Dipuji “memberi pandangan baru,” seberapa akurat film ini? Juga, ketahui film-film paling akurat yang tak tipu-tipu sejarah!

Sutradara pembesut film biopik selalu membuat keputusan pelik: Fokus pada akurasi, atau bikin tontonan menghibur? Seringkali fakta harus diubah demi kisah yang nikmat ditonton. Sebagian biopik akhirnya jadi klasik karena faktor sinematik dan kekuatan akurasinya. Sementara sejumlah film lain jadi sekadar tontonan dengan akurasi amat rendah.

Semua anak sekolah kenal Mahatma Gandhi lewat pelajaran sejarah. Tapi sosok yang melekat di benak adalah aktor Sir Ben Kingsley, yang memerani Gandhi (1982). Di benak remaja Amerika kini, Abraham Lincoln si Presiden ke-16 itu adalah macam aktor Daniel Day-Lewis, yang memerani biopik besutan Steven Spielberg, 2012.

 

Detroit, studi kasus rasialisme di Amerika Serikat

Bagaimana dengan Detroit, film berdasar kisah nyata besutan Kathryn Bigelow, yang dirilis 4 Agustus lalu? Mengangkat kisah kerusuhan rasial di Detroit antara warga kulit putih dan kulit hitam di Amerika 50 tahun lalu itu, film ini terasa gregetnya mengingat isu rasial kembali menghangat di era pemerintahan Donald Trump.

Detroit berdasarkan karya John Hersey, The Algiers Motel Incident, buku studi kasus terbaik rasialisme yang ditulis pria kulit putih. Algiers Motel, tempat terjadinya peristiwa, hingga kini masih berdiri. Detroit mengisahkan insiden kecil di Algiers Motel, penggerebekan satu klub malam, tapi menimbulkan reaksi besar. Berlatar 1967, sejumlah anggota Dinas Kepolisian Detroit dan petugas keamanan nasional Michigan membunuh tiga orang kulit hitam, termasuk dua perempuan kulit putih, yang dipukuli secara brutal.

Diperani John Boyega, Will Poulter, Jacob Latimore, Jason Mitchell, Hannah Murray, Kaitlyn Dever, Jack Reynor, Algee Smith dan Anthony MackieDetroit menggambarkan kerusuhan terbesar di Amerika Serikat; mengakibatkan 43 orang tewas dan melibatkan ribuan petugas keamanan nasional dikerahkan ke seluruh kota yang terbakar.

“Keajaiban film ini memaksa kita merasakan kemarahan yang dirasakan orang lain dan mengenali orang di lapis bawah. Penonton pulang dengan pandangan baru. Detroit bukan tentang kota; ini tentang Amerika,”.

Aktor Algee Smith, pemeran musisi Larry Reed, satu dari tiga pria kulit hitam yang terbunuh, mengungkapkan ia dan pemeran lain tak perlu buku sejarah untuk menghayati karakter. "Kami tak perlu mencari inspirasi. Nyalakan berita, baca media sosial. Meski 50 tahun di naskah, hari ini kita masih melihatnya,” ungkap Smith.

Meski belum ada ahli sejarah atau pengamat menilai seberapa akurat Detroit, Melvin Dismukes, seorang satpam berkulit hitam, saksi peristiwa yang dalam film diperani aktor John Boyega, mengatakan, "Ini 99,5% akurat atas apa yang terjadi."

Inilah film-film paling akurat!

Mempertanyakan akurasi film berdasarkan kisah nyata adalah sesuatu yang menarik. Dua film biopik yang dirilis pada 2014 menunjukkan tingkat akurasi amat berbeda: Selma dianggap100% akurat secara historis, sementara The Imitation Game  hanya 41.4%. Studi dilakukan melalui analisis adegan demi adegan.

Dalam Selma, biopik besutan Ava DuVernay tentang pejuang hak asasi manusia Martin Luther King itu, tiap insiden yang terlihat dan terdengar, dianggap sesuai aslinya. Karenanya, film yang diperani David Oyelowo, Carmen Ejogo, dan Tim Roth ini tak hanya sekadar tontonan, tapi bisa dianggap sebagai rujukan sejarah. Sementara kisah Alan Turing, ahli matematika yang memecahkan kode demi membantu matematikawan lain di era Perang Dunia II itu dianggap “merobek catatan sejarah yang sudah rusak.” Film besutan Morten Tyldum yang diperani Benedict Cumberbatch, Keira Knightley, dan Matthew Goode itu disebut “hanya meniru kerumitan mesin Enigma dan kriptografi yang luar biasa, yang biasanya tak mudah dilakukan.”

Siapa menilai akurasi macam ini? Angka Selma dan The Imitation Game diberikan oleh Alex von Tunzelmann, sejarawan yang rutin menganalisis akurasi historsi film. Pakar ini memuji Selma sebagai "teliti, penuh pencapaian, dan adil", sementara The Imitation Game "berantakan, seperti rangakaian kode yang tak terputus.”

Menurut Alex von Tunzelmann, sineas menciptakan ketidakauratan terutama pada detil karakter dan timeline, demi target durasi 90-120 menit tercapai. Lalu, apa aja yang jadi kesimpulan pakar sejarah ini?

Ia memuji besutan Clint EastwoodAmerican Sniperbiopik Seal Navy Chris Kyle, yang dinilai akurat 56,9%. "Banyak kejadian di film itu memang terjadi," katanya, "tapi keterlibatan Kyle di dalamnya berlebihan.” Ia juga menilai Spotlight memiliki akurasi 81,6%, The Big Short 91,4%, Bridge of Spies 89,9%, 12 Years A Slave 88,1%, Rush 81,9%, Captain Phillips 81,4%, dan The Wolf of Wall Street 74,6%. SementaraThe Social Network 76,1%, The King's Speech 73,4%, Philomena 69,8% dan Dallas Buyers Club 61,4%.

Ketepatan akurasi dalam film belakangan jadi topik perdebatan tajam, karena ditengarai film biopik makin diminati sineas. Sungguh menarik mencermati seberapa akurat biopik Jackie Kennedy, Jackie;  atau kisah pria di balik restoran siap saji McDonald's, The Founder; dan kepemimpin pemberontakan budak Nat Turner dalam The Birth of a Nation. Juga Loving, pasangan yang meruntuhkan larangan pernikahan lintasras; The Hidden Figures, matematikawati yang bekerja untuk Nasa; dan Lion, yang diperani Dev Patel, orang yang menggunakan Google Maps untuk melacak keluarga aslinya di India. Juga Hacksaw Ridge, besutan Mel Gibson yang mengisahkan tenaga medis di arena peperangan.

Biopik yang mengisahkan akurasi sejarah atau sekadar tipu-tipu sejarah, juga sedang jadi topik memanas di negeri kita... Seperti, apakah film tentang Pemberontakan G 30/S PKI perlu dibuat ulang, atau dilupakan begitu saja.