wiseguy
by wiseguy

Aktingnya disukai penonton, dicintai sutradara, dipuji kritikus. Ia juga sosok yang dicintai keluarganya. Mau apa lagi?

Oscar 2017 bagi sebagian pihak dinilai tak adil bagi beberapa sineas, salah satunya bagi aktris Amy Adams.

Oscar snub alias “kekecewaan Oscar” akhir Februari lalu di antaranya tidak dinominasikannya Amy Adams untuk perannya dalam Arrival yang dibesut Denis Villeneuve; dan Nocturnal Animals karya desainer terkenal Tom Ford. Meski, sebagian penonton berharap, dan kritikus memuji aktingnya.

Arrival, mengisahkan sekelompok ilmuwan yang memecahkan misteri kedatangan alien ke Bumi, di mana Amy memerani pakar linguistik yang bergabung dengan pakar matematika demi memecahkan misteri atas misi alien yang datang ke bumi.

Sementara Nocturnal Animal, film kedua besutan sutradara sekaligus desainer fesyen Tom Ford, diangkat dari novel yang terbit pada 1993, Tony and Susan karya Austin Wright. Mengisahkan Susan, kurator seni yang menerima paket naskah novel Nocturnal Animals kiriman mantan suaminya, Edward Jake Gyllenhaal). Naskah ini mengisahkan seorang pria yang kehilangan anak istrinya dengan tragis dan mengenaskan. Terhanyut kisahnya, Susan menyadari maksud terselubung Edward.

Seperti ditulis independent.ie, sehari setelah pengumuman daftar nominasi, sutradara Denis Villeneuve kecewa Amy tak dinominasikan untuk perannya sebagai pakar lingusitik dalam drama fiksi ilmiah Arrival. Meski begitu ia bilang, “Aku dan kru bikin film hebat yang kubawa ke festival. Delapan nominasi Oscar adalah hal tak terduga, dan ini rasanya seperti kemenangan besar. Meski tak dinominasikan, Amy menghadapinya dengan elegan. Ia aktris paling rendah hati yang pernah kukenal dan amat bahagia terlibat dalam Arrival.

Menjadi unggulan adalah hal biasa bagi Amy. Ia bahkan lima kali jadi nominator Oscar. Setidaknya, sepanjang kariernya, Amy pernah 64 kali menang dan 182 kali menjadi nominator di berbagai festival film dunia, empat di antaranya Oscar untuk Aktris Pendukung Terbaik dalam Junebug (2005) besutan Phil Morrison, Doubt (2008) yang disutradarai John Patrick Shanley, The Fighter (2010) yang disutradarai David O. Russell, serta The Master (2012) yang dibesut Paul Thomas Anderson. Dan tentu saja, peran dalam American Hustle (2013) untuk kategori Aktris Terbaik.

Penghargaan Oscar yang Membuntutinya

Amy Lou Adams, begitu nama lengkapnya, lahir di Vicenza, Italia dari kedua orangtua asal Amerika, meski kemudian dibesarkan di Castle Rock, Colorado.

Saat di sekolah menengah, Amy yang anggota paduan suara dan kemudian menjadi penari, berambisi jadi balerina. Saat bekerja sebagai penari di Boulder's Dinner Theatre dan Country Dinner Playhouse, ia ditemukan seorang sutradara teater Minneapolis yang menyarankannya pindah ke Minnesota untuk bekerja di teater. Tapi, ia berhenti menari ketika terpilih dalam audisi Drop Dead Gorgeous (1999), yang pengambilan gambarnya dilakukan di Minnesota.

Selama syuting, ia malah disarankan pindah Los Angeles. Dan Benar! Ia suskes gaet sebuah peran televisi Fox dari film layar Cruel Intentions (1999). Meski seri itu gagal tayang, ia sukses gaet peran besar di Catch Me If You Can (2002), dengan lawan main Leonardo DiCaprio. Sayangnya, meski film ini sukses, Amy tak mendapat peran apa pun lagi selama setahun sehingga kembali ke film televisi, di antaranya berperan dalam seri Dr. Vegas (2004).

Tapi, sebuah peran dalam film berbujet rendah membuat Hollywood menyadari talenta aktingnya yang luar biasa dalam Junebug (2005), yang membuatnya dinominasi Oscar untuk Aktris Pendukung Terbaik.

Berkat kemampuannya memelototkan mata menirukan jagoan cewek animasi Disney, ia terpilih di antara 300 peserta audisi, sesuatu yang kemudian membuatnya mendapat peran "Giselle" dalam live-action Enchanted (2007), sebuah peran besar yang membuatnya dikenal di seluruh dunia. Meski aktingnya dinilai apik dalam  Charlie's Wilson War (2007) dan Sunshine Cleaning (2008), perannya sebagai biarawati dalam  Doubt  (2008) memberinya nominasi Oscar untuk kali kedua. 

Di awal 2010-an, ia bermain bersama Jason Segel dalam The Muppets (2011), dengan Joaquin Phoenix dan Philip Seymour Hoffman dalam The Master (2012), dan bersama Clint Eastwood dan Justin Timberlake dalam Trouble with the Curve (2012).

Meski peran paling diingat semua orang adalah saat ia memerani Lois Lane, si kekasih Superman dalam Man of Steel (2013), peran sebagai Sydney Prosser dalam American Hustle (2013) memberinya nominasi Oscar untuk Aktris Terbaik, yang disusul biopik pelukis Margaret Keane dalam film besutan Tim Burton, Big Eyes (2014).

Ia kembali memerani Lane pada 2016 dalam Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), disusul dua film yang banyak dibicarakan selama tahun lalu Arrival dan Nocturnal Animals. 

Pada 17 Januari lalu, Amy mendapatkan Hollywood Walk of Fame, penghargaan atas kiprahnya di industri hiburan sebagai selebritas ke-2.598 yang menerimanya. Hari itu, seminggu setelah ajang Golden Globes digelar, ia menerimanya ditemani sang suami Darren Le Gallo, putrinya yang berusia 6 tahun Aviana, serta ibunya Kathryn.

Semua bilang keluarga ini adalah keluarga amat bahagia. Atau seperti yang pernah Amy sendiri bilang, “Tak ada yang lebih penting dalam hidupku melebihi keluargaku.”

Amy Adams, sejujurnya, adalah sosok yang selalu disukai penonton, dicintai sutradara, dipuji kritikus, dan dicintai keluarganya. Oscar  seprtinya hanyalah soal waktu.