wiseguy
by wiseguy

Meski berakting sejak bocah, Naomie Harris dikenal dunia setelah beraksi dalam Skyfall. Lebih dari sekadar cewek Bond, ia juga sukses memerani Winnie Mandela. Gara-gara melanggar prinsipnya sendiri demi Moonlight, bayang-bayang Oscar pun membuntutinya!

“Sejak lama aku tak ingin memerani perempuan kulit hitam yang stereotipe. Aku bersikap beda,” ucap Naomie Harris pada IndieWire.com baru-baru ini. “Ini wilayah di mana aku punya kekuatan dalam peran yang aku pilih. Aku selalu ingin peran perempuan bercitra progresif.”

 

 

Apa sesungguhnya yang ingin ia ucapkan, sebenarnya? “Aku tak ingin peran pengedar narkoba,” jelasnya.

Tapi sesuatu kemudian meruntuhkan prinsipnya. “Hidup itu menakjubkan. Kapan pun kau mengatakan ‘Aku tak akan melakukannya,’ kehidupan menghampiri dan mengujimu,” katanya lagi.

Sesuatu yang menggoda prinsipnya itu adalah sutradara Barry Jenkins, yang menyodorinya karakter Paula dalam Moonlight, peran utama seorang ibu yang mengalami tiga fase kehidupan, di antaranya sebagai pengedar narkoba. Ia terpanggil untuk jadi bagian dari adaptasi naskah panggung karya Tarell McCraney, In Moonlight Black Boys Look Blue itu.

“Pesan universal yang ingin disampaikannya luar biasa. Aku ingin orang bereaksi positif setelah menontonnya,” katanya, sumringah.

Meski di kemudian hari sejumlah penghargaan digaet Moonlight, bahkan para kritikus berspekulasi tentang peluang Oscar baginya, Naomie tetap rendah hati. “Penghargaan layak kita hormati keberadaannya. Reaksi orang setelah menontonnya adalah hal terpenting bagiku,” ucapnya lagi, mengulang harapannya akan sikap positif penonton tentang film itu.

Bernama lengkap Naomie Melanie Harris, aktris kelahiran 6 September 1976, London, Inggris, tampaknya ia mewarisi bakat seni ibunya, penulis naskah televisi Lisselle Kayla asal Trinidad. Sementara ayahnya berasal dari Jamaika.

Si anak tunggal ini sudah menunjukkan bakat seni peran sejak kecil. Berkat para gurunya di Anna Scher Theatre School yang mencium bakat luar biasanya, Naomie yang mengawalinya dengan kegiatan drama di sekolah, di usia Sembilan tahun ia terpilih di sejumlah serial televisi, di antaranya Simon and the Witch (1987) dan The Tomorrow People (1992). Di kemudian hari ia melanjutkan studi di ilmu sosial dan politik di Pembroke College, Cambridge University. Kehidupan kampus diakuinya sangat tidak ia nikmati.

Selulus kuliah, sesuatu yang sangat melegakannya, ia mengikuti pelatihan di Bristol Old Vic Theatre School. Tak lama kemudian, Naomie digaet sutradara Danny Boyle untuk memulai debut layar lebarnya, 28 Days Later... (2002). “Seumur hidup, tak akan pernah aku lupakan peran Boyle dalam karierku,” tuturnya.

Setelah Miami Vice (2006) bersama Jamie Foxx dan Colin Farrell, proyek berikutnya yang layak dicatat tentulah Small Island (2009) karena ia menjadi “Best Female Actor,” predikat yang dikukuhkan oleh Royal Television Society. Ia juga merebut hati penggemarnya berkat perannya yang mengesankan sebagai Tia Dalma dalam film-film Pirates of the Caribbean.

Tapi, perhatian internasional baru tertuju padanya setelah menjadi aktris kulit hitam pertama yang memerani agen Eve Moneypenny (bahkan perempuan berkulit hitam pertama yang diberi nama gadis, bukan nama suami atau nama keluarga!) dalam film James Bond, Skyfall (2012) dan disusul Spectre (2015). Aktingnya juga dipuji kritikus ketika memerani Winnie Mandela dalam biopik Mandela: Long Walk to Freedom, berpasangan dengan Idris Elba

 

Sangat bangga menjadi orang Inggris, perempuan yang memacari Peter Legler sejak 2012 ini amat dekat dengan ibunya. Meski kini mandiri, agar selalu dekat dengan sang ibu, rumahnya tak saja di jalan yang sama dengan rumah orangtuanya, bahkan berada di seberang jalan!   

Kepada IndiWire.com Naomie mengungkap pandangannya tentang film, bidang yang digelutinya selama lebih dari 30 tahun. Pandangannya bahkan merefleksikan betapa ia amat menghargai profesi ibunya sebagai penulis skenario.

“Segalanya diawali dari naskah, makin banyak perspektif perempuan akan makin besar dampak kualitas film yang kita dapatkan. Sayangnya, terlalu sedikit perempuan penulis skenario, dan kita selalu melihat perempuan dalam versi yang ditulis laki-laki. Perempuan selalu digambarkan dalam kategori jalang, ibu, atau simbol seks. Itu tak adil,” paparnya panjang lebar. 

 “I think there's nothing more amazing than helping people every day.” -  Naomie Harris

Mengaku The Sound of Music (1965) adalah film favoritnya seumur hidup (“Aku selalu berimajinasi main dalam musikal, tapi itu mustahil, aku tak bisa menyanyi, apalagi menari!”), Naomie mengaku bukan tipikal aktris Hollywood yang bercita-cita punya rumah besar dengan mobil mewah bertebaran di halaman. Ia bahkan orang yang mudah tersentuh hal-hal sederhana.

“Aku bisa menangis terharu gara-gara diberi bunga, atau seseorang memberi hadiah, atau dipeluk sahabat,” katanya sambil tersenyum simpul.