wiseguy
by wiseguy

Jackie Chan adalah legenda seni bela diri di sinema. Sukses menembus Hollywood meski satu per satu tulang tubuhnya patah, tak pernah disesalinya. Tapi ia menyesal tak melanjutkan pendidikan formalnya…

Semua penggemar film laga akrab penampilan Jackie Chan dalam blockbuster macam trilogi Rush Hour dan Shanghai. Tapi, terutama bagi penonton remaja, tahukah mereka berapa lama pria ini merintis karier sebagai aktor, sutradara, produser, dan dikenal seantero dunia?

Semua bermula dari sini…

Berperan sebagai action hero di hampir semua filmnya, Jackie saat bayi dijuluki Pao Pao, yang artinya "peluru Meriam." Karena ia selalu berguling-guling ketika masih bayi!

Lahir di Victoria Peak, Hong Kong pada 7 April 1954, ia diboyong ayah-ibunya, Charles dan Lee-Lee Chan, beremigrasi ke Canberra, Australia, pada awal 1960-an. Jackie kecil yang tak terlalu pintar di kelas membuat orangtuanya mengirimnya kembali ke Hong Kong untuk mengikuti pelatihan di China Drama Academy, salah satu jurusan di Peking Opera.

Di sana, bakat dan kemampuan sejati Jackie muncul: akrobatik, bernyanyi, dan seni bela diri. Ketrampilannya makin terasah saat ikut rombongan sirkus "Seven Little Fortunes", dan menjalin persahabatan dengan aktor dan suhu bela diri Sammo Kam-Bo Hung dan Biao Yuen.

Ia kembali ke Hong Kong (kemudian menjadikan negeri itu sebagai tanah airnya) dan memulai debutnya saat berusia 8 tahun dalam Big and Little Wong Tin Bar (1962). Setelah sejumlah peran kecil, pada 1971, ia tampil dalam besutan King Hu, A Touch of Zen, yang menandai kariernya sebagai aktor dewasa.

Jackie kemudian kebagian peran kecil film Bruce Lee, Fist of Fury, 1972. Saat itu Bruce Lee, aktor berdarah Asia kelahiran San Francisco itu, tak hanya sangat dikenal di Asia, tapi dunia pun menonton aksinya.

Pada 1976, sutradara Lo Wei ingin Jackie jadi pengganti Bruce Lee, yang meninggal pada 20 Juli 1973, dengan New Fist of Fury. Film ini gagal. Gaya Jackie sedikit berbeda dengan kung fu yang dimainkan Bruce Lee.

Debutnya dalam Snake in the Eagle's Shadow, 1978, yang dibesut Yuen Woo Ping meraih sukses komersial, di mana Jackie bebas melakukan berbagai aksi sesukanya, sehingga dikategorikan sebagai kung fu komedi. Di tahun yang sama, nama Jackie Chan meroket di langit Asia setelah bermain dalam film besutan sutradara Woo-Ping Yue, Drunken Master.

Tapi film Hollywood pertamanya, Battle Creek Brawl (1980), tak menciptakan hasil memuaskan. Setahun kemudian, ia mendapat peran kecil dalam The Cannonball Run dan menuai sukses komersial. Jackie kemudian terkenal dengan tampilan closing credit title-nya, yang sering diulangnya di film-film berikutnya.

Sesudah kegagalan The Protector pada 1985, ia undur diri sementara dalam upaya menembus pasar Amerika. Kembali ke Hong Kong, Jackie mulai mendulang sukses di kawasan Asia Tenggara dengan membuka pasar Jepang lewat The Young Master (1980) dan Dragon Lord (1982). Ia juga membuat film komedi dengan sahabatnya sesama pemain opera, Sammo Hung dan Yuen Biao, Project A, dirilis pada 1083, dan menggaet Best Action Design Award di Hong Kong Film Awards.

Setelah sejumlah proyek untuk pasar Asia selama 1980-an dan awal 1990-an, Jackie memulai lagi ambisinya menembus Hollywood dengan tak mau menerima peran penjahat agar terhindar peran serupa di masa datang.

Ia akhirnya berhasil menjejakkan karier sesungguhnya di pasar Amerika Utara pada 1995 dengan Rumble in the Bronx, pembuka jalan bagi pasar Amerika Serikat. Film itu juga menggugah diedarkannya film-film Jackie yang lain, dan membuka begitu banyak kemungkinan proyek-proyek Hollywood berkelas dunia.

Skiptrace

“Jangan mencoba seperti Jackie. Hanya ada satu Jackie. Pelajari saja komputer,” tutur aktor yang aksinya tetap bikin penonton berdecak kagum meski usianya tak muda lagi dalam Skiptrace, film besutan Renny Harlin yang ia bintangi bersama si 'gila' Johnny Knoxville 

Jackie Chan dikenal sebagai aktor yang melakukan sendiri peran berbahaya di semua filmnya tanpa peran pengganti. Pilihan ini menjadikannya sebagai aktor paling sulit mendapatkan asuransi di Amerika Serikat, sehingga dalam kontrak, aksinya dibatasi. Gara-gara ini, ia jadi salah satu pemegang Guinness World Record untuk "Most Stunts by A Living Actor," alias "tak ada perusahaan asuransi mendukung film Jackie karena ia melakukan sendiri aksi-aksi berbahayanya.” Atas hal ini, ia hanya berkomentar, “Jangan biarkan situasi mengendalikanmu. Kaulah yang mengubah situasi.”

Apa pendapatnya tentang film, seni dan industri yang sejak bocah telah ia geluti? “Sinema mencerminkan budaya dan tak ada salahnya mengadaptasi teknologi, asal jangan hilangkan orisinalitasmu.”

Nasihatnya bagi anak-anak penggemarnya? “Banyak belajar!” ucapnya. Ia mengaku sangat menyesal dengan pendidikan formal yang tak sempat ia selesaikan. Karenanya, lewat badan sosial yang didirikannya, ia banyak menyumbang sekolah-sekolah yang membutuhkan dan anak-anak tak mampu agar bisa menyelesaikan pendidikan mereka.

Jackie Chan memang jagoan sejati!