wiseguy
by wiseguy

Film ini sukses raih lebih dari 4 juta penonton, di tengah pandemi Covid-19 yang bikin hampir semua bioskop di dunia terpaksa tutup. Cerita memukau, aktor pujaan, penyutradaraan apik, hanya sebagian alasannya. Ada rahasia yang bikin Deliver Us From Evil beda dari film Korea lain. Simak deh!

Deliver Us From Evil

Film selalu menciptakan hal-hal tak terduga, lebih dari sekadar kejutan cerita atau sensasi di dalamnya. Meski sineas berpengalaman punya formula tertentu agar filmnya sukses, tak ada yang bisa menjamin hasil akhirnya bisa menempati top box office.

 

Kejutan dari Deliver Us from Evil di tengah pandemi

Hal mengejutkan juga terjadi dengan Deliver Us from Evil besutan Won-Chan Hong itu. Film yang kini tayang di CATCHPLAY+ ini, hot dari bioskop, jadi film pertama yang memecahkan rekor 4,35 juta penonton selama musim panas tahun ini di negeri asalnya, Korea Selatan.

Bergenre triler kriminal, Deliver Us from Evil menghadirkan pemenang Grand Bell, Jung-jae Lee, dan Jung-min Hwang. Keduanya beradu aksi seru menegangkan dalam cerita bertema balas dendam. Film ini mengisahkan In-nam, yang bosan dengan pekerjaan sebagai pembunuh bayaran. Ia berniat berhenti dari bisnis kotor ini. Tapi setelah tahu hubungannya dengan peristiwa penculikan baru-baru ini, ia harus menunda rencana pensiunnya dan terbang ke Thailand untuk mengakhiri masa lalunya.

Apa yang menyebabkan film ini jadi top box office? Kisahnya memang seru, dengan konflik balas dendam yang mengingatkan gaya terbaik film Korea Selatan. Sang sutradara tentulah nama besar, yang pernah menggarap Office (2015) dan penulis skenario kisah kriminal amat bagus The Yellow Sea (2010). Aktornya, Jung-jae Lee, dikenal lewat seri popular  Along with the Gods, sementara Jung-min Hwang dikenal lewat The Battleship Island. Dengan cerita memukau, apakah faktor-faktor itu jadi alasan film ini sukses pada musim panas tahun ini? Ingat, dunia sedang di tengah pandemi Covid-19, tak terkecuali Korea. Dalam situasi ini, hampir semua industri terkena dampaknya tak terkecuali bisnis perbioskopan.

Di negeri ginseng itu, musim panas berlangsung pada Juni hingga September, yang berpuncak pada Juli menuju Agustus. Sebagai salah satu negara Asia dengan empat musim, seperti halnya masyarakat Barat, musim panas biasanya dimanfaatkan warga Korea pergi ke tempat hiburan, aneka festival khas musim panas, pantai, termasuk menonton di bioskop.

Jung-jae Lee dalam Deliver Us From Evil

Meski Korea dipuji penanganannya terhadap pandemi, tak urung di beberapa wilayah dilakukan lockdown pada Februari, dan dibuka lagi pada Maret. Gelombang kedua pandemi juga membuat Korea melakukan lockdown di ibukota Seoul pada Agustus lalu. Tak mudah bagi bioskop untuk bekerja seperti halnya zaman normal. Film-film Hollywood yang dijadwalkan tayang tahun ini secara global, batal tanpa bisa dipastikan kapan batas waktunya. Dalam situasi seperti itu, Deliver Us from Evil mencatatkan rekor dengan manis. Jadi apa rahasianya? Ternyata…

 

Kekuatan berbagi ‘dari mulut ke mulut’

Korea yang tergolong jauh lebih baik penanganan pandeminya dibanding negara Asia lainnya, tak menutup sepenuhnya bioskop mereka. Protokol kesehatan tetap dilakukan. Situasi ini jadi amat menantang untuk mengajak orang untuk berkunjung ke bisokop. Dan Deliver Us from Evil punya segala hal, yang diperlukan bagi sebagian penonton awal, untuk mengabarkan betapa hebat dan memukaunya film ini pada kerabat dan sahabat mereka!

Jung-min Hwang dan Jung-jae Lee sedang berdiskusi dengan sang sutradara

Jung-min Hwang dan Jung-jae Lee sedang berdiskusi dengan sang sutradara

Menurut Darcy Paquet, kritikus asal Amerika Serikat yang punya minat besar pada film Korea, Deliver Us from Evil sukses karena ‘memenuhi janjinya’. Film ini memberi tontonan hebat seperti yang dijanjikan. Pengalaman ini secara bertahap membangun momentum saat penonton merekomendasikannya pada kerabat dan teman-teman mereka, dan membagikan antusiasme mereka secara online.  “Bagi kritikus dan para pekerja di industri film, energi dari mulut ke mulut semacam itu sangat menggetarkan. Saat berita tentang film yang luar biasa mulai menyebar, Anda bisa merasakan sesuatu di udara!” ungkap  Darcy Paquet.

Dalam waktu sebelum pandemi, promo sebuah film biasanya diawali dengan sutradara dan para pemeran mengadakan sesi tanya jawab dengan pers. Tiket premier biasanya terjual habis, dan bioskop dipenuhi penggemar. Di masa pandemi, hal itu tak bisa dilakukan.

Jung-min Hwang, Jung-jae Lee dan Won-Chan Hong dalam sebuah interview

Jung-min HwangJung-jae Lee dan Won-Chan Hong dalam sebuah interview

Cukup banyak film dari luar Korea yang ditayangkan perdana di festival tiap tahun. Biasanya film yang populer di kalangan penonton dan kritikus fanatik akan menarik perhatian, dan dibahas di media sosial. Jika film tersebut juga diterima dengan baik di festival film internasional, dalam beberapa bulan kemudian film tersebut mungkin ditayangkan di seluruh dunia, atau bahkan memenangkan beberapa penghargaan festival, yang diliput oleh media lokal. Kemudian, mungkin selama satu atau dua tahun kemudian, film tersebut dirilis di bioskop di Korea. Pada titik ini, liputan pers membantu menciptakan kesan bahwa ini adalah film yang dibicarakan banyak orang dan pantas untuk ditonton.

Deliver Us from Evil berasal dari Korea sendiri. Di Korea, menurut Darcy Paquet, efek ‘dari mulut ke mulut’ pada rilis sebuah film besar cenderung intens, lebih dari di negara lain, karena minat publik Korea yang besar terhadap bioskop. Film yang langsung memukau penonton bisa menciptakan box-office setelah satu atau dua hari pertama rilis film. Promosi dari mulut ke mulut yang baik mendorong minat calon penonton bertambah secara berlipat ganda. Itu yang terjadi dengan Deliver Us from Evil.

Makin penasaran kan? Tonton filmnya sekarang di CATCHPLAY+. Jadilah orang pertama yang membagikan betapa serunya film ini pada kerabat dan para sobatmu. Hot dari bisokop, lho!