Vincent Vega
by Vincent Vega

Selamat hari film nasional. Semoga para sineas kita bisa lebih kreatif lagi dalam berkarya. Agar kreatif, butuh kebebasan. Dan ternyata, banyak juga film nasional yang membawa spirit ini!

Diam-diam, pembuat film kita punya semangat yang sama dalam menyuarakan kebebasan. Isu yang diusung sih boleh aja beda-beda, mulai dari soal emansipasi, perundungan (bullying), rasisme. Namun muaranya ya sama kok.

*) Numpang lewat dulu ya. Sebelum dilanjutkan ada info asik dari CATCHPLAY+ dalam rangka meramaikan Hari Film Nasional. Simak deh caranya.

Cara mendapatkan promo: 

1. Beli voucher paket CATCHPLAY+ di Tokopedia (https://www.tokopedia.com/streaming/catchplay/)

2. Di halaman pembayaran, masukkan kode voucher HARIFILM 

3. Cashback 10% hingga Rp 10.000 akan masuk ke OVO Points 

4. Saat pembayaran berhasil, pengguna akan mendapatkan kode untuk ditukar di platform CATCHPLAY+

Cara menukarkan kode voucher CATCHPLAY+ yang dibeli dari Tokopedia: 

1. Salin kode voucher yang dikirimkan dari Tokopedia

2. Masuk ke platform CATCHPLAY+ (website/aplikasi)

3. Buka Menu --> Promotions --> Redeem Code

4. Masukkan kode voucher yang sudah disalin ke kotak Redeem Code, klik Apply 

5. Paket CATCHPLAY+ kini sudah bisa dipakai sesuai syarat yang berlaku 

Syarat dan Ketentuan:

- Benefit: cashback 10% s/d 10ribu
- Periode: 29 - 31 Mar 2020
- Promo code: HARIFILM

Nah, di CATCHPLAY+ banyak kok film karya anak bangsa yang mengusung pesan. Cek aja dulu artikelnya, mungkin aja ada yang sesuai dengan aspirasimu. Baru deh, tonton filmnya.

 

Bebas (2019, Riri Riza) – Bebas dari Perundungan

Vina (Maizura) namanya, anak baru di sekolah Kris (Sheryl Sheinafia). Ia nyaris jadi target perundungan kalau tak bergabung dengan geng Bebas. Tak sekadar mengobarkan pesan anti perundungan, kompaknya geng ini merekam manisnya persahabatan gaya anak SMA. Pesan moral ini yang ingin disampaikan proyek adaptasi film Korea Sunny (2011, Hyeong-Cheol Kang).

Bebas

 

Istirahatlah kata-kata (2017, Yosep Anggi Noen) - Bebas Berekspresi

Indonesia pada Mei 1998 menjadi puncak gerakan reformasi. Nggak gampang sih buat mencapai momentum ini, butuh pengorbanan. Itulah yang dialami penyair Wiji Thukul (Gunawan Maryanto). Puisi yang ditulisnya bikin merah kuping penguasa. Alhasil, ia kerap dicari-cari aparat. Dan puncaknya, dia dinyatakan hilang sampai saat ini.

Istirahatlah kata-kata

 

Surat Cinta untuk Kartini (2016, Azhar Kinoi Lubis) – Emansipasi

Kartini adalah sosok yang harum namanya di negeri ini. Buah pikirannya melecut semangat emansipasi, kesetaraan bagi kaumnya agar posisinya tak tertindas lagi. Kinoi membuat filmnya dengan cara yang asik, yakni sudut pandang seorang tukang pos (Chicco Jerikho) yang biasa membawa surat untuk Kartini (Rania Putrisari).

Surat Cinta untuk Kartini

 

My Generation (2017, Upi) – Kebebasan Gaya Anak Muda

Seperti apa sih Generasi Z? Cek aja film ini. Gaya bicara kekinian dengan selipan bahasa Inggris saat ngobrol, which is itu Jakarta Selatan banget deh. Para pemain macam Arya Vasco, Lutesha, Alexandra Kosasie, hingga Bryan Warow pas banget buat mengantar cerita yang kekinian ini. Namanya juga anak muda, memang butuh kebebasan yang penting nggak berbuat kriminal aja sih.

My Generation

 

The Raid: Redemption (2012, Gareth Evans) – Bebas dari Kriminalitas

Sebenarnya ini kisah yang simpel aja, sekelompok polisi menyerbu markas penjahat kelas kakap. Gitu aja. Namun kemasannya bikin Indonesia masuk peta perfilman dunia. Lihat aja, polisinya jagoan macam Iko Uwais, musuhnya lincah kayak Yayan Ruhian. Usai premier di Toronto dan dibawa distributor Sony Pictures Classics, The Raid jadi cult banget. Lantas disusul sekuelnya The Raid 2: Berandal (2014) yang tak kalah keren.

The Raid: Redemption

 

Perempuan Berkalung Sorban (2009, Hanung Bramantyo) – Kebebasan Kaum Perempuan

Sebuah proyek yang dianggap sebagai drama religi, namun pesannya sih universal. Kisah tentang Annisa (Revalina.S.Temat), gadis dengan pemikiran progresif di tengah kehidupan pesantren yang konservatif. Ia menjadi pejuang di tengah komunitas yang masih mengagungkan spirit maskulin. Ya, Annisa harus melanjutkan perjuangan Kartini yang masih belum usai.

Perempuan Berkalung Sorban

 

Ngenest (2016, Ernest Prakasa ) – Bebas dari Rasisme

Apa sih rasanya menjadi minoritas? Tanya aja sama Ernest Prakasa, seorang keturunan Tionghoa yang kerap dilecehkan saat di bangku sekolah. Ini memang otokritik yang pahit tapi terpaksa ditelan juga. Dikemas dengan bumbu komedi, Ernest memberi contoh sempurna: mampu menertawakan diri sendiri. Barangkali dengan begini orang bisa mengurangi sifat rasisme dari dalam hatinya.

Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan