ayu
by ayu

Salah satu aktris terbaik sejagat itu mengatakan kalau film superhero hanya bikin Hollywood jalan di depan dan banyak bakat yang tersia-siakan lantaran lebih mengejar keuntungan ketimbang kreativitas. Lalu muncul sutradara Guardians of the Galaxy, James Gunn yang mengatakan Foster kuno! 

Penonton generasi now, bisa jadi tak terlalu akrab dengan nama Jodie Foster. Pada masanya, ia adalah super bintang, yang bukan cuma bisa mendulang penghargaan tapi juga bisa menarik penonton berbondong-bondong ke bioskop. Foster adalah nama yang disegani di daratan Hollywood. Ia bukan hanya piawai berakting, namun juga menulis naskah, menyutradarai dan tak jarang jadi produser. 

Mengawali karir sejak usia tujuh tahun, dan mengejutkan dunia saat masih berusia 13 tahun, ketika memerankan pelacur di bawah umur dalam Taxi Driver (1976), garapan Martin Scorsese. Selanjutnya karir Foster melesat. Membintangi film-film remaja, dan kerennya lagi, ia sukses bertransformasi sebagai bintang dewasa. Memenangkan Oscar pertamanya lewat The Accused (1988), sebagai perempuan korban perkosaan. Oscar keduanya datang saat ia memerankan agen FBI Clarice Starling dalam Silence of the Lamb (1991). 

Inside Man

Bermain di segala genre, dari drama, komedi, sci-fi hingga action atau thriller macam Inside Man. Juga segala macam karakter, dari perempuan kampung, pelacur hingga bisnis woman. Bila lebih aktif dan selektif, sebenarnya bukan mustahil ia akan menyaingi Meryl Streep

Tak perlu kaget kalau apa yang dikatakan Foster, minimal akan jadi catatan bagi banyak orang, termasuk ketika belakangan ia mengatakan film-film superhero membuat kreativitas tumpul dan cara nonton anak-anak akan berubah: mereka terpola untuk menonton film-film blockbuster yang terus menerus dibikin sekuelnya, atau malah dibikin ulang dengan bintang yang berbeda. 

"Sekarang ke bioskop seperti masuk theme park,” ujar Foster. "Semuanya tentang film superhero berbujet $200 juta, lengkap dengan CGI dan efek lainnya," tambahnya. "Saya membuat film karena ingin menceritakan sesuatu, atau sebagai wujud karya saya buat dunia sinema." 

Tak ada yang memberi komentar balik, selain James Gunn, sutradara serial Guardians of the Galaxy ini seperti tak rela kalau film blockbusternya digolongan film 'payah' ala Foster tadi. Ia lantas menyerang balik dengan mengatakan Foster film maker kuno dan tak punya alasan yang jelas tak suka dengan superhero. 

"Film-film berbujet besar dan mengejar penonton masal tak berarti tak bisa bagus," imbuh Gunn. "Saya ada di industri ini, membuat  film-film seperti ini lantaran merasa bisa menghasilkan karya yang inovatif dan tetap bisa memberi sentuhan manusiawi di genre ini." 

"Protes" Foster tentang maraknya film superhero ini bukan yang pertama. Malah sebelumnya, Steven Spielberg juga terang-terangan kalau berharap musim superhero segera berlalu.

Pendapat serupa juga muncul dari sutradara gaek lain, Ridley Scott yang juga blak-blakan mengatakan film-film superhero itu ceritanya tak jelas, dangkal, bahkan kadang tak ada ceritanya sama sekali. 

Sutradara pemenang Oscar ini bahkan menolak beberapa proyek superhero karena alasan tadi. "Terlalu banyak non-reality yang ditampilkan di film (superhero) dan jujur saja ini membuat saya kuatir, karena dunia sinema jadi dipenuhi film-film sampah." 

Selain Scott, sutradara kawakan lain, Clint Eastwood juga capek dengan serbuan film superhero. "Saat kecil saya baca komik. Tapi melihat adaptasi menggila di layar lebar, saya tak mau ikut-ikutan. Mending, saya bikin film yang lebih jelas ceritanya, film yang bisa dicerna akal sehat dan barangkali lebih berguna. Tidak perlu tanyakan apa saya tertarik menyutradarai film superhero, jawabannya sudah pasti: tidak." 

Sahabat lama Foster, aktor-sutradara Mel Gibson rupanya juga malas dengan 'aliran' superhero ini. Malah dengan cuek ia menyebut sebagian besar film superhero ini hanya buang-buang duit. "Biaya besar, hasilnya jelek, bahkan tak layak tonton." Seperti halnya Eastwood, Gibson juga tak tertarik menyutradarai film superhero. "Sudahlah, apa kita tak tahu bedanya pahlawan beneran dengan yang di komik? Pahlawan sejati gak bakalan ribet-ribet pakai kostum spandek!" 

Sebenarnya, apa yang dikatakan Foster, plus empat sutradara tadi tak salah, apalagi kalau mengingat keempatnya punya film-film klasik. Siapa tak kenal E.T. the Extra-Terrestrial, Jaws atau Schindler's List besutan Spielberg, Scott dengan Gladiator atau Thelma & Louise-nya, Eastwood dengan Unforgiven, Mystic River atau Million Dollar Baby-nya, dan tentu saja Gibson dengan Braveheart atau Hacksaw Ridge-nya.

Nah, Anda sendiri bagaimana?